Sukarjo senang bukan kepalang. Pekebun kacang hijau di Kabupaten Demak itu dapat memanen polong kacang hijau 34 hari lebih cepat daripada biasanya. Padahal, selama ini panen polong kacang hijau dilakukan 2 kali karena waktu matang polong berbeda.
Sejak menanam kacang hijau varietas vima 1, Sukarjo mulai memetik manfaat. Varietas vima 1 merupakan riset Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) di Malang dan dirilis pada 2008. Polong varietas baru itu masak serempak dan genjah, 60 hari. Sebelumnya, saat memakai varietas lain, 80% polong baru masak pada umur 90 hari dan sisa dipetik 4-6 hari sesudahnya.
Dengan polong masak serempak, biaya panen dapat ditekan. Untuk memanen varietas vima 1 di lahan 2 ha, Sukarjo memakai 10 pekerja selama sehari. Dengan ongkos Rp15.000/orang, biaya panen cuma Rp150.000.
Bandingkan biaya panen sebelumnya yang perlu 25 pekerja. Sisa dipanen paling sekurangnya perlu 10 pekerja. Secara hitungan produksi dengan 2 kali panen, Sukarjo mengeluarkan dana Rp575.000.
Varietas vima 1 yang matang serempak, memudahkan pekerja panen. Para pekerja memotong batang kacang hijau 6 cm dari atas tanah. Produktivitas vima 1 pun mencapai 1,76 ton/ha, lebih tinggi dari varietas lokal, 1,5 ton/ha. Dengan harga jual Rp7.000/kg, pendapatannya Rp24,64-juta. Menurut Sukarjo biaya produksi Rp3.500/kg, sehingga laba mencapai Rp9-juta/ha.
Bagi pengusaha makanan seperti bakpia, kacang hijau vima 1 disukai. “Kulit biji lunak, daging biji cepat empuk ketika direbus,” kata Rahman, produsen bakpia di Yogyakarta. Sudah begitu, bakpia dengan isi kacang hijau vima 1 tidak lekas tengik. Itu karena kadar lemak vima 1 rendah hanya 0,4%, sedangkan varietas lain mencapai 0,53%.